Durian
Durian adalah nama tumbuhan tropis yang
berasal dari wilayah Asia Tenggara. Nama ini
diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam
sehingga menyerupai duri. Sebutan
populernya adalah "raja dari segala buah" (King of Fruit).
Durian adalah buah yang kontroversial, meskipun banyak orang yang menyukainya,
namun sebagian yang lain malah muak dengan aromanya.
Sesungguhnya, tumbuhan dengan nama durian bukanlah spesies tunggal tetapi sekelompok tumbuhan dari marga Durio. Namun
demikian, yang dimaksud dengan durian (tanpa imbuhan apa-apa) biasanya adalah Durio
zibethinus. Jenis-jenis durian lain yang dapat dimakan dan kadangkala
ditemukan di pasar tempatan di Asia Tenggara di antaranya adalah lai
(D. kutejensis), kerantungan (D. oxleyanus), durian kura-kura atau kekura (D. graveolens),
serta lahung (D. dulcis). Untuk selanjutnya, uraian di bawah
ini mengacu kepada D. zibethinus.
Nama-nama lokal
Terdapat banyak nama lokal. Nama terbanyak ditemukan di Kalimantan, yang mengacu pada berbagai varietas dan
spesies yang berbeda. Durian di Jawa dikenal sebagai duren (bahasa Jawa, bahasa Betawi) dan kadu (bahasa Sunda). Di Sumatera dikenal sebagai durian dan duren
(bahasa Gayo). Di Sulawesi, orang Manado menyebutnya duriang, sementara orang Toraja duliang. Di Kota
Ambon dan kepulauan Lease biasa disebut sebagai Doriang. Di Pulau Seram bagian timur disebut rulen.
Keanekaragaman
Durian sangat beraneka
ragam. Sebagaimana disebut di muka, beberapa spesies selain durian benar (D.
zibethinus) juga dianggap sebagai durian. Di Indonesia tercatat ada 20
spesies anggota Durio (dari hampir 30-an jenis),
sembilan di antaranya dapat dimakan. Durian yang benar pun memiliki banyak
variasi. Lembaga penelitian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah merilis berbagai kultivar durian
unggul. Selain itu terdapat pula ras-ras lokal yang dikenal baik namun belum
mengalami tahap seleksi untuk meningkatkan kualitasnya.
Kultivar unggul nasional
Terdapat
lebih dari 55 varietas/jenis durian budidaya. Hingga 2005 terdapat 38 kultivar
unggul yang telah diseleksi dan diperbanyak secara vegetatif. Beberapa di antaranya:
|
|
Ras lokal
Durian
lokal di Cigudeg, Bogor
Beberapa
ras lokal belum diseleksi, sehingga
masih bervariasi dan keunggulannya belum terjamin. Biasanya dinamakan sesuai
lokasi geografi. Beberapa di antaranya adalah:
- Durian parung
- Durian lampung
- Durian jepara
- Durian palembang
- Durian padang
Kultivar unggul dari luar negeri
Di
Malaysia, kultivar durian unggul hasil seleksi diberi kode nomor dengan huruf D
di depannya. Beberapa di antaranya adalah
- 'D24'
- 'D99'
- 'D123'
- 'D145'
- 'D158'
- 'D159' (klon sama dengan varietas 'Montong').
- 'D169'
- 'MD-UR 888' (Durian Terbaik Dunia)
Budidaya dan perbanyakan
Pohon
durian asal biji yang sedang berbuah
Durian
adalah buah tropis, tumbuh di sekitar khatulistiwa hingga ketinggian 800 m dpl., serta menjauh
hingga garis lintang 18° di Thailand dan Queensland.
Syarat tumbuh dan pemupukan
Curah
hujan yang
disukai sekurang-kurangnya 1500 mm, yang tersebar merata sepanjang tahun. Akan tetapi,
periode kering 1-2 bulan akan merangsang perbungaan lebih baik. Musim raya buah
durian biasa terjadi setelah tahun dengan musim kemarau yang berkepanjangan.
Musim panen antara dapat terjadi dengan produksi buah yang biasa-biasa saja.
Tanaman
ini memerlukan tanah yang dalam, ringan dan berdrainase baik. Derajat
keasaman
optimal adalah 6-6,5. Tanah masam, seperti latosol atau podsolik merah kuning
memerlukan pengapuran agara tanaman tumbuh baik. Durian muda juga memerlukan
lindungan alam, agar pohon atau cabang-cabangnya yang sarat buah tidak patah
diterpa angin yang kuat. Muka air tanah tidak boleh kurang dari 150 cm
karena air tanah yang terlalu rendah berakibat buah kurang manis.
Pemupukan dilakukan dengan membuat parit kecil di
sekeliling pohon lalu ditaburi pupuk kimia. Pupuk kandang diberikan pada waktu
penanaman bibit. Pemupukan dengan kadar NPK yang sama diberikan segera
setelah musim berbuah, sedangkan pemupukan dengan kadar P yang lebih tinggi
diberikan setelah flushing selesai untuk mempersiapkan pembungaan.
Penanaman dan pemeliharaan
Penanaman
durian secara komersial di perkebunan dilakukan dengan jarak tanam 10 m × 10 m
hingga 12 m × 12 m, tergantung dari ukuran tanaman/kultivarnya. Apabila tanaman
masih kecil, tumpang sari dapat dilakukan.
Pengendalian gulma juga perlu dilakukan.
Pemeliharaan
mencakup pemupukan, pemangkasan (pembentukan dan peremajaan), pengairan (bila
diperlukan), dan pengendalian hama dan penyakit. Tajuk durian yang baik adalah
berbentuk kerucut membulat, dengan cabang utama mendatar ke samping.
Perbanyakan
Perbanyakan
durian di desa-desa umumnya dengan menggunakan biji. Perbanyakan dengan biji
juga dilakukan untuk memperoleh batang bawah dalam perbanyakan
vegetatif. Biji
durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air tinggi
(di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan
seminggu sebelum akhirnya embrionya mati. Dengan demikian biji
harus segera disemaikan setelah buahnya dibuka.
Pohon
durian mulai berbuah setelah 4-5 tahun, namun dalam budidaya dapat dipercepat
jika menggunakan bahan tanam hasil perbanyakan
vegetatif.
Teknik-teknik yang dipakai adalah pencangkokan (jarang dilakukan), penyusuan
(jarang dilakukan), penyambungan sanding (inarching), penyambungan celah
(cleft grafting), atau okulasi (budding). Teknik yang terakhir
ini sekarang yang paling banyak dilakukan. Beberapa penangkar sekarang juga
menerapkan penyambungan
mikro (micrografting).
Teknik ini dilakukan pada saat batang bawah masih berusia muda sehingga
mempercepat masa tunggu. Tercatat bahwa durian hasil perbanyakan vegetatif
mampu berbunga setelah 2-3 tahun.
Durian
juga memungkinkan diperbanyak secara in vitro (kultur jaringan).
Hama dan penyakit
Hama yang menyerang durian di antaranya adalah ulat penggerek
buah (gala-gala), ulat penggerek bunga, dan kutu loncat durian (menghisap cairan daun muda).
Penyakit utama durian adalah busuk
akar dan batang Pythium
complectens, mati bibit (juga oleh patogen yang sama), penyakit
blendok/kanker Phytophthora
palmivora, dan jamur upas yang menyerang batang/cabang.
Kegunaan

Tempoyak, durian yang diragikan
Es
krim durian di Padang
Durian
terutama dipelihara orang untuk buahnya, yang umumnya dimakan (arilus atau
salut bijinya) dalam keadaan segar. Salut biji ini umumnya manis dan sangat
bergizi karena mengandung banyak karbohidrat, lemak, protein, dan mineral.
Pada
musim raya durian, buah ini dapat dihasilkan dengan berlimpah, terutama di
sentra-sentra produksinya di daerah. Secara tradisional, daging buah yang
berlebih-lebihan ini biasa diawetkan dengan memasaknya bersama gula menjadi dodol durian (biasa disebut lempok),
atau memfermentasikannya menjadi tempoyak. Selanjutnya, tempoyak yang rasanya masam
ini biasa menjadi bahan masakan seperti sambal tempoyak, atau untuk campuran
memasak ikan.
Durian
pun kerap diolah menjadi campuran bahan kue-kue tradisional, seperti gelamai
atau jenang. Terkadang, durian dicampurkan dalam hidangan nasi pulut (ketan) bersama dengan santan.
Dalam dunia masa kini, durian (atau aromanya) biasa dicampurkan dalam permen, es krim, susu, dan berbagai jenis
minuman penyegar lainnya.
Bijinya
bisa dimakan sebagai camilan setelah direbus atau dibakar, atau dicampurkan
dalam kolak durian. Biji durian yang mentah beracun dan tak dapat
dimakan karena mengandung asam lemak siklopropena (cyclopropene). Biji
durian mengandung sekitar 27% amilosa.[11] Kuncup daun (pucuk), mahkota bunga, dan buah
yang muda dapat dimasak sebagai sayuran.
Durian (Durio zibethinus)
|
|
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
|
|
Energi
|
615 kJ
(147 kcal)
|
Karbohidrat
|
27.09
g
|
3.8
g
|
|
Lemak
|
5.33
g
|
Protein
|
1.47
g
|
Air
|
65g
|
Vitamin C
|
19.7
mg (33%)
|
Kalium
|
436
mg (9%)
|
Hanya bagian yang dapat dimakan, mentah
atau beku.
Brangkasan: 68% (Shell and seeds) Sumber: USDA Nutrient database[12] Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa. |
|
Beberapa
bagian tumbuhan kadang-kadang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.
Akarnya dimanfaatkan sebagai obat demam. Daunnya, dicampur dengan jeringau (Acorus calamus), digunakan untuk
menyembuhkan cantengan (infeksi pada kuku). Kulit buahnya untuk
mengobati ruam pada kulit (sakit kurap) dan susah buang air besar (sembelit).
Kulit buah ini pun biasa dibakar dan abunya digunakan dalam ramuan untuk
melancarkan haid dan menggugurkan
kandungan. Abu dan air rendaman abu ini juga digunakan sebagai campuran pewarna
tradisional.
Beberapa
masyarakat di Jawa menggunakan kulit durian yang telah dimakan sebagai pengusir
(repellent) nyamuk dengan meletakkannya di sudut ruangan.
Kayu
gubalnya berwarna putih dan terasnya kemerah-merahan. Ringan, namun tidak
begitu awet dan mudah diserang rayap. Biasa digunakan sebagai
perabot rumah, peti-peti pengemas, dan bahan konstruksi ringan di bawah atap,
asalkan tidak bersentuhan dengan tanah.[13]
Nilai gizi
Setiap
100 g salut biji mengandung 67 g air, 28,3 g karbohidrat, 2,5 g lemak, 2,5 g
protein, 1,4 g serat; serta memiliki nilai energi sebesar 520 kJ. Durian juga banyak
mengandung vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C; serta kalium, kalsium dan fosfor.
Serba-serbi buah durian
Masalah bau
Karena
baunya yang keras menyengat dan cenderung busuk (bagi beberapa orang), sejumlah
perusahaan dan maskapai penerbangan melarang orang membawa durian, misalnya di
kabin pesawat udara, di kendaraan angkutan umum ataupun dibawa ke hotel.
Bagi
penggemar durian, agar tidak menimbulkan hal-hal tak menyenangkan dengan orang
yang tak menyukai bau durian, dipercaya ada sebuah cara yang mudah untuk
menghilangkan bau durian di jari-jari tangan dan mulut. Jari tangan dibersihkan
dengan mengaduk-aduk air di dalam pangsa durian (yakni ceruk kulit buah bagian
dalam, bekas tempat daging dan biji durian menempel) dan air adukan tersebut
tidak dibuang, tetapi digunakan untuk berkumur, hal itu dinilai efektif.
Panen durian
Di
Kabupaten Ketapang Kalbar panen durian setiap tahun muncul pada bulan Januari
atau Februari. Untuk tahun 2006, di luar kebiasaan, buah selang (buah bukan
musim) ternyata cukup banyak dihasilkan. Meskipun panen buah kali ini tidak
besar (karena buah selang) namun karena banyak lokasi kebun yang berbuah maka
cukup banyak juga yang tersedia di pasaran. Panen terbesar kali ini datang dari
tanaman masyarakat di Kecamatan Sukadana yang juga merupakan sentra
produksi durian di Kabupaten
Ketapang. Di
kawasan ini selain dibudidayakan masih banyak buah durian yang tumbuh liar.
Harganya cukup bervariasi 3 butir Rp 10.000, sementara yang besar berkisar antara
rp 5000- Rp 10.000. Buah durian ini termasuk spesies endemik di Kabupaten
Ketapang, beberapa jenis durian liar ada di kawasan kabupaten Ketapang.
Jenisnya beraneka, seperti durian teratong, durian lahong, durian lei, durian
tembranang. Beberapa jenis durian tersebut meskipun tidak komersial, tetapi
merupakan sumber gen plasma nuftah yang sangat berguna bagi pemulyaan. Nama
ilmiah spesies liar cukup bnayak antara lain durian burung, durian kura kura
kura yang buahnya dipangkal batang atau di pangkal akar. Durio kutejensis (
durian pekawai) , Durio oxlevanus, Durio graveolens, dan Durio dulcis (lahong).
Aneka jenis spesuies liar banyak terdapat di hutan dengan warna, bau dan bentuk
yang beraneka. Karena banyaknya spesies di kawasan ini maka membuktikan bahwa
Kabupaten Ketapang adalah salah satu tempat penyebaran durian. Para ahli kini
sedang meneliti beberapa jenis varitas liar tersebut.
Memilih durian
Setiap
orang mempunyai caranya sendiri dalam memilih buah durian terbaik.
Masing-masing orang percaya bahwa cara pemilihannya dapat menghasilkan buah
terbaik.
Durian
adalah buah musiman yang dulunya dipanen sekali setahun. Sekarang panen durian
dapat dilakukan hingga dua kali setahun. Hal ini meningkatkan persaingan di
antara para penjual eceran.
Memilih
buah yang tepat amat penting apabila penjual menjual buah sebagaimana adanya,
tanpa boleh dibuka. Sekarang penjual umumnya mau membuka buah untuk membuktikan
isinya. Dengan cara ini, keahlian dalam memilih pun menjadi kurang penting.
Mencium
bau durian sebelum membeli
Orang
dapat memilih durian dengan mudah di kebun. Buah dari pohon yang sama umumnya
mempunyai ciri-ciri yang serupa. Lazimnya buah di kebun dibiarkan masak dan
jatuh dari pohonnya ("duren jatuhan").
Pemilihan
buah di luar kebun lebih rumit. Berikut ini adalah sebagian dari pedoman
seleksi yang dapat digunakan:
- Kesegaran buah dapat ditentukan dari tangkainya. Apabila buah telah jatuh dari pohon, tangkainya akan mulai mengering. Penjual yang tidak jujur akan mencoba untuk membalut atau mengecat tangkai untuk menghalangi pembeli mengenali kesegarannya. Penjual yang kurang pintar mungkin malah akan membuang tangkai durian.
- Kebanyakan peminat menggemari buah durian yang kering dan matang. Sebuah cara mudah untuk mengetahui apakah isi durian itu kering tanpa membuka buah adalah dengan menggoncangkan buah dan merasakan getaran kecil. Isi durian yang lembap melekat pada kulit buah. Isi durian yang kering cenderung untuk berpisah dari dinding buah. Orang mestilah berhati-hati agar tidak tergores oleh duri buah durian ketika melakukan ini.
- Durian mungkin diserang oleh ulat perusak yang bertelur di dalam buah yang berkembang menjadi larva. Ketika membeli buah durian pembeli harus menghindari buah yang berlubang pada kulitnyanya karena sering kali ini merupakan tanda adanya "ulat" di dalam buah.
Membelah durian
Orang
yang baru belajar membeli durian dianjurkan membeli durian yang telah siap
dibuka karena membelah durian agak sukar. Biasanya kita dapat dengan mudah
menemukan penjual yang memberi pelayanan membelah durian. Bila pembeli sudah
setuju untuk membelinya, penjual biasanya akan membelah durian sebagai
pelayanannya. Mereka bersedia melakukannya, meskipun mereka tidak memindahkan
isinya ke dalam bungkusan lain. Namun buah durian yang sudah dibelah perlu
segera dimakan karena buah itu cenderung untuk "berkeringat". Bila
isi durian mulai menghasilkan air, buah durian akan kehilangan rasanya dan
tidak banyak gunanya.
Orang
dapat belajar membelah durian dengan hati-hati dengan peralatan yang biasa
terdapat. Periksalah kulit luar buah untuk menemukan "garis" (kampuh)
sepanjang permukaan di mana duri durian tersusun membentuk garis lurus. Umumnya
terdapat hingga 5 garis sepanjang permukaan buah durian.
Bagian
tangkai durian harus dibalikkan
dan garis urat durian akan bertemu pada satu titik di ujung buah. Pelan-pelan
tusukkan benda tajam (pisau) pada titik ini, lalu goreskan sepanjang
"garis" yang sudah terlihat sebelumnya. Sarung tangan atau sehelai kain yang tebal dapat digunakan
untuk memegang buah durian dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya
untuk melakukan tugas ini. Waspadai risiko tertusuk duri durian.
Bila
kulit buah durian telah terbuka menjadi dua bagian, isi di dalam telah siap
untuk dimakan. Ruas selebihnya dapat dibelah dengan menggunakan telapak tangan
dengan cara merobek ujung kulit durian sedikit pada sepanjang pusat titik
tengah sebelumnya.
Panas
Menurut
banyak cerita yang berkembang di masyarakat (urban legend), Durian
dianggap sebagai makanan yang panas, dan sehabis makan durian biasanya
tubuh akan berkeringat. Cara yang umum digunakan
untuk mengatasinya adalah dengan menuangkan air tawar pada bagian kulit
buah yang telah kosong, lalu diminum. Selain itu, musim durian biasanya terjadi
bersamaan dengan musim manggis, yaitu buah yang dianggap mendinginkan badan.
Dengan demikian, kedua buah kemudian dimakan bersama-sama.
Secara
ilmiah, klaim-klaim di atas tidak pernah dibuktikan. Kemungkinannya ialah
karena kandungan nutrisi durian yang padat, orang yang makan durian sering makan
kebanyakan sehingga akhirnya mengalami kenaikan tekanan darah. Hal tersebut merupakan reaksi yang alamiah
jika terlalu banyak memakan makanan apapun.
Durian tanpa duri
Sebagian
durian dijual "tanpa duri". Duri buah durian ini ternyata telah
dibuang ketika duriannya masih muda. Jadi tidak alami. Sebagian durian memang
hampir tidak berduri karena durinya kurang dari 5 mm.
sumber (www.id.wikipedia.org)
sekian infonya jangan lupa berkunjung kembali ya..
0 komentar :
Posting Komentar